Daftar isi
Di Antara Desir Angin Selat Malaka
Di antara desir angin Selat Malaka, berdiri menara yang kini tak lagi gagah. Catnya pudar, besinya berkarat, dan suara burung camar terdengar samar di antara akar-akar mangrove yang menjulang bagai jari-jari bumi.
Langkah kaki di jembatan kayu yang lapuk terdengar pelan, krek… krek… seolah menyusuri kenangan yang mulai pudar. Di bawahnya, air pasang surut membawa sisa-sisa daun kering, kadang juga plastik yang tersesat. Suasana hening, tapi juga menggugah nurani.

Youtube/@Mediatrip_id
Beberapa tahun lalu, Mangrove Forest Park Kuala Langsa adalah destinasi primadona di timur Aceh. Ribuan wisatawan datang untuk menikmati ekowisata yang tak hanya memanjakan mata, tapi juga menyentuh hati. Kini, sebagian dari keindahan itu seperti sedang menunggu uluran tangan manusia.
Warisan Hijau yang Pernah Membanggakan
Sedikit orang tahu bahwa kawasan ini seluas 8.000 hektare — menjadikannya salah satu hutan mangrove terbesar di Asia Tenggara. Di dalamnya hidup 38 jenis pohon mangrove yang menjadi benteng alami terhadap abrasi laut dan rumah bagi ratusan jenis burung, ikan, serta kepiting bakau.
Kawasan ini bukan sekadar wisata alam. Ia adalah laboratorium hidup. Banyak mahasiswa, peneliti, hingga lembaga internasional yang menjadikannya lokasi riset tentang konservasi hutan mangrove dan ekosistem pesisir.
Puncak kejayaannya terjadi pada 2019, ketika Mangrove Forest Park Kuala Langsa meraih API Award (Anugerah Pesona Indonesia) untuk kategori ekowisata terbaik nasional. Saat itu, keindahan menara pandang setinggi 45 meter menjadi ikon Langsa. Dari puncaknya, panorama hijau membentang hingga horizon laut lepas. Banyak wisatawan berkata, “Rasanya seperti melihat dunia dari paru-paru bumi.”
Ketika Keindahan Mulai Meretak

Youtube/@Mediatrip_id
Namun, waktu dan cuaca tak selalu bersahabat. Menara yang dulu menjulang kini merunduk dalam diam.
Bagian bawahnya retak, besi-besinya karatan, dan catnya mengelupas. Kerusakan menara mangrove ini menjadi simbol kecil dari masalah besar yang sedang melanda: minimnya perawatan, dana terbatas, dan kesadaran wisata yang belum seimbang dengan semangat konservasi.
Jembatan kayu lapuk yang menghubungkan area wisata pun kini sebagian tak lagi aman dilalui. Beberapa papan bolong, paku berkarat mencuat di sana-sini. Pengunjung yang datang sering berhenti di tengah jalan, bukan untuk berfoto, tapi memastikan langkah mereka aman.
Tak hanya itu, di beberapa titik terlihat sampah plastik berserakan, terbawa arus pasang surut. Ironisnya, kawasan yang dulunya menjadi simbol kebersihan dan edukasi lingkungan kini harus bergulat dengan persoalan yang justru ingin dilawannya: ketidakpedulian manusia terhadap alam.
Dampak yang Tak Terlihat, Tapi Terasa
Ketika ekowisata Aceh ini menurun pengunjungnya, dampaknya terasa hingga ke warung kecil di pintu masuk. Para pedagang yang dulu bisa menjual 50–100 porsi mie Aceh per hari kini hanya melayani beberapa orang saja.
Warga sekitar yang menggantungkan hidup dari jasa parkir, perahu wisata, dan oleh-oleh pun mulai beralih profesi. Ada yang kembali melaut, ada yang mencari kerja di luar kota. Ekowisata yang dulu menjadi tumpuan ekonomi lokal kini hanya menyisakan bayangan masa lalu.
Padahal, data dari PT Pelabuhan Kuala Langsa menunjukkan, pada tahun-tahun awal pengembangan, jumlah wisatawan bisa mencapai puluhan ribu per tahun. Penurunan ini tidak hanya berarti kehilangan pendapatan, tapi juga melemahkan semangat warga untuk menjaga kawasan tersebut.
Mangrove, Benteng dan Napas Kita

Youtube/@Mediatrip_id
Perlu diingat, hutan mangrove bukan sekadar tempat wisata. Ia adalah pelindung alami dari tsunami, abrasi, dan badai pesisir. Saat tsunami 2004 melanda Aceh, daerah yang masih memiliki mangrove cenderung lebih terlindungi dibanding daerah yang gundul.
Mangrove menyerap karbon 3–5 kali lebih banyak dibanding hutan darat. Itulah sebabnya para peneliti menyebutnya sebagai “paru-paru dunia.” Kehilangan ekosistem ini berarti kehilangan benteng terakhir melawan perubahan iklim.
Konservasi hutan mangrove bukan cuma tugas pemerintah. Ini soal masa depan anak-anak yang akan mewarisi pesisir ini. Menurut Sandiaga Uno, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (2023), “Ekowisata berkelanjutan adalah fondasi masa depan wisata Indonesia. Kita harus merawatnya seperti kita merawat rumah sendiri.”
Revitalisasi: Harapan yang Masih Menyala
Kabar baiknya, harapan itu belum padam. Pemerintah daerah bersama beberapa komunitas lokal mulai menggagas revitalisasi kawasan mangrove. Mereka mengusulkan perbaikan menara pandang, penggantian jembatan kayu lapuk dengan bahan ramah lingkungan, serta pelatihan bagi warga sekitar sebagai pemandu wisata edukatif.
Langkah kecil ini penting. Karena keindahan tanpa perawatan akan hilang, tapi kepedulian yang tulus bisa menumbuhkan kembali keajaiban alam.
Banyak wisatawan lama yang kini kembali dengan semangat baru. Mereka datang bukan hanya untuk berfoto, tapi juga untuk ikut menanam bibit mangrove. Anak-anak sekolah datang membawa catatan kecil, belajar tentang ekowisata Indonesia yang sesungguhnya — tentang bagaimana menjaga, bukan sekadar menikmati.
Potensi Edukasi dan Wisata Alam
Mangrove Forest Park Kuala Langsa masih memiliki daya tarik luar biasa untuk dikembangkan menjadi wisata edukasi alam. Dengan luas ribuan hektare, kawasan ini dapat dijadikan pusat pembelajaran tentang biodiversitas, pengelolaan limbah, dan mitigasi bencana.
Bayangkan jika sekolah-sekolah di seluruh Aceh membawa siswanya untuk belajar langsung di sini. Mereka akan mengenal spesies mangrove seperti Rhizophora apiculata, Avicennia alba, dan Sonneratia caseolaris. Mereka bisa melihat bagaimana akar mangrove menahan lumpur, memelihara ekosistem laut, dan menjadi tempat berkembang biaknya ikan-ikan kecil.
Kegiatan seperti eco-tour, volunteer day, atau green photography contest bisa menghidupkan kembali suasana wisata yang dulu menggeliat. Wisata yang tak hanya memanjakan mata, tapi juga menyentuh nurani.
Langsa, Kota di Antara Alam dan Laut

Youtube/@Mediatrip_id
Kota Langsa sendiri memiliki posisi strategis. Berbatasan langsung dengan Selat Malaka, wilayah ini menjadi gerbang perdagangan dan pariwisata Aceh Timur. Tak heran bila kawasan mangrovenya begitu kaya — karena tumbuh di muara sungai yang subur dan dilindungi dari gelombang besar.
Namun, kota ini juga menghadapi dilema: bagaimana menyeimbangkan pembangunan industri dan konservasi. Perlu kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan swasta agar kawasan seperti Mangrove Forest Park tak hanya jadi simbol nostalgia, tapi contoh nyata keberhasilan ekowisata berkelanjutan.
Belajar dari Kesalahan, Bergerak untuk Masa Depan
Tidak ada yang salah dengan menikmati keindahan. Tapi yang sering terlupakan adalah tanggung jawab setelahnya. Banyak wisatawan datang, tapi tak semua meninggalkan kesan baik. Ada yang membuang sampah sembarangan, ada pula yang mencoret jembatan demi “kenangan.”
Padahal, menjaga alam itu sederhana: cukup tidak merusaknya.
Dari sini bisa dipetik pelajaran bahwa ekowisata Aceh bukan hanya urusan pemerintah, tapi urusan bersama. Jika semua pihak mau terlibat — dari komunitas, akademisi, hingga wisatawan — maka menara yang retak bisa diperbaiki, dan semangat warga bisa tumbuh kembali.
Seorang warga setempat pernah berkata, “Kami tak butuh banyak bantuan, cukup ada yang peduli.” Kalimat itu sederhana, tapi menggambarkan makna terdalam dari konservasi.
Hutan Mangrove: Manusia dan Alam
“Mangrove bukan sekadar hutan, ia adalah napas yang kita bagi bersama.”
Kawasan seperti Mangrove Forest Park Kuala Langsa mengajarkan banyak hal: tentang hubungan manusia dan alam, tentang keindahan yang rapuh, dan tentang harapan yang tak boleh padam.
Menara yang dulu menjulang mungkin kini merunduk, tapi akar-akar mangrove masih kuat memeluk bumi. Di sanalah harapan bertumbuh, menunggu langkah-langkah kecil yang mau kembali peduli.
Bila suatu hari menjejak lagi di sana, semoga yang terdengar bukan suara kayu lapuk, tapi tawa anak-anak yang belajar tentang kehidupan. Karena sesungguhnya, di antara lumpur dan akar itu, masa depan sedang tumbuh pelan-pelan.

