Daftar isi
“Keheningan yang bertumbuh di antara batu dan danau.” Kalimat ini seakan menjadi bisikan pelan yang terdengar ketika pertama kali menapakkan kaki di Batu Passa, sebuah tempat yang tidak sekadar lokasi wisata, tetapi juga ruang batin untuk menepi dari hiruk pikuk dunia.

Pagi hari di Desa Sangkal, Kecamatan Simanindo, terasa seperti halaman kosong yang siap ditulisi siapa saja yang berani hening. Kabut tipis menyelimuti permukaan Danau Samosir, cahaya matahari perlahan menyingkap wajah danau yang biru tenang, sementara di tepiannya berdiri batu besar yang dipeluk erat akar pohon beringin tua. Seakan alam menyiapkan altar kecil untuk siapa saja yang datang dengan hati terbuka.
Suasana inilah yang menjadikan Batu Passa berbeda dari wisata populer lain. Tidak ada keramaian pasar oleh-oleh atau deretan resort mewah. Hanya ada udara segar, keheningan yang tebal, dan ruang refleksi yang kadang jarang ditemukan di dunia modern.
Menuju Objek Wisata
Batu Passa terletak di Desa Sangkal, Kecamatan Simanindo, Kabupaten Samosir. Lokasinya berada tak jauh dari jalur utama menuju beberapa objek wisata Danau Toba, tetapi tetap tersembunyi dari sorotan besar pariwisata. Itulah mengapa tempat ini sering disebut sebagai wisata tersembunyi yang masih asli.
Ciri khas Batu Passa adalah batu-batu besar yang berdiri seolah menjadi saksi waktu. Di tengahnya, sebuah pohon beringin ikonik menjulang, dengan akar yang menjuntai, seakan “memeluk batu dengan akar waktu”. Kehadirannya menciptakan pemandangan yang fotogenik sekaligus penuh simbolisme budaya Batak.
Tak jauh dari batu dan pohon tersebut, terdapat sebuah goa kecil yang difungsikan warga sebagai ruang kreasi. Di dalamnya, tangan-tangan kreatif menganyam pandan duri menjadi keranjang, tikar, dan cendera mata yang sederhana namun penuh makna. Goa ini bukan sekadar tempat kerajinan, melainkan “goa kecil, tangan-tangan kreatif, dan anyaman harapan” bagi masyarakat sekitar.
Batu Passa Kini

Sejak dicanangkannya Gerakan Wisata Bersih 2025–2026, Batu Passa mulai mendapat perhatian lebih. Warga bersama Pokdarwis (Kelompok Sadar Wisata) bahu-membahu menjaga kebersihan lokasi, memperbaiki akses jalan, dan menata area sekitar agar tetap alami tanpa kehilangan identitas aslinya.
Suasana di sini masih jauh dari kesan komersial. Jalan setapak menuju Batu Passa dipenuhi pepohonan dan udara lembap yang segar. Sampah hampir tidak terlihat, hasil dari disiplin masyarakat yang sadar bahwa wisata yang lahir dari kesadaran, bukan keramaian, akan lebih bertahan lama.
Inisiatif ini juga didukung oleh program Visit Samosir Years 2025–2026, yang bertujuan memperkenalkan destinasi baru dan wisata ramah lingkungan. Batu Passa kini berdiri di persimpangan: tetap menjaga kesunyian atau berkembang menjadi magnet wisata baru dengan wajah ekowisata.
Ekowisata Samosir
Jika dikelola dengan bijak, Batu Passa bisa menjadi salah satu ikon ekowisata di Samosir. Ada banyak potensi yang bisa dikembangkan, baik untuk wisata alam, budaya, maupun spiritual.
Pertama, potensi wisata kreatif. Goa yang menjadi rumah kreasi warga bisa dikembangkan sebagai galeri seni lokal. Produk anyaman pandan duri bisa dipamerkan dalam pameran terbuka, sehingga pengunjung tidak hanya melihat, tetapi juga ikut belajar membuat kerajinan tangan.
Kedua, Batu Passa sangat cocok untuk dijadikan lokasi healing retreat. Suasananya yang hening memberi ruang bagi kegiatan seperti meditasi, journaling, yoga, atau sekadar duduk di bawah pohon beringin sambil menatap Danau Samosir. Banyak wisatawan kini mencari pengalaman “langkah pelan menuju kedamaian yang tak terucap”, dan Batu Passa bisa menjadi jawabannya.
Ketiga, pengembangan festival budaya dan ekowisata. Bayangkan sebuah festival kecil dengan musik tradisional Batak, pameran seni, serta workshop kerajinan, semuanya dilaksanakan di tengah keheningan batu dan danau. Konsep ini akan memberi pengalaman autentik yang jarang bisa ditawarkan destinasi lain.
Nilai Filosofis dan Budaya
Bagi masyarakat Batak, batu dan pohon bukan sekadar benda mati. Batu adalah simbol keteguhan dan fondasi, sementara pohon beringin melambangkan perlindungan, keteduhan, dan hubungan dengan leluhur.
Di Batu Passa, keduanya bersatu: batu besar yang teguh dan pohon beringin yang memeluknya dengan akar waktu. Gambaran ini bisa ditafsirkan sebagai simbol perjalanan manusia yang butuh kekuatan (batu) sekaligus kasih sayang dan perlindungan (pohon).

Filosofi ini sejalan dengan ajaran Batak tentang “Dalihan Na Tolu”, prinsip harmoni dalam hubungan manusia. Batu Passa seakan mengajarkan bahwa keheningan bukan berarti kosong, melainkan ruang tempat pertumbuhan berlangsung.
Di sinilah wisatawan bisa merenung bahwa perjalanan ke Samosir bukan hanya soal foto atau konten media sosial, melainkan ruang refleksi. “Samosir bukan hanya destinasi, tapi ruang refleksi.”
Alam adalah Ruang Hening yang Hidup
Batu Passa bukan sekadar lokasi di tepi Danau Samosir. Ia adalah ruang hening yang hidup, tempat alam, budaya, dan manusia saling bertemu dalam keseimbangan.
Saat melangkah meninggalkan area ini, terasa bahwa ada sesuatu yang tertinggal di dalam hati: semacam keheningan yang bertumbuh perlahan. Alam seakan berbisik, “wisata yang lahir dari kesadaran, bukan keramaian, akan lebih lama bersemi.”
Bagi siapa pun yang mencari tempat untuk menepi, bermeditasi, atau sekadar menghirup udara segar dengan penuh kesadaran, Batu Passa adalah jawabannya. Datanglah dengan rasa hormat, tinggalkan hanya jejak kaki, dan bawalah pulang ketenangan.
Seperti kata pepatah lama, “Alam adalah guru keheningan yang tak pernah habis mengajar.”

