Daftar isi
Ketika Senyum Tak Selalu Bermakna Bahagia
Dia Dinda, nama yang disamarkan. Usianya baru 16 tahun. Di Instagram, feed-nya penuh dengan foto senyum lebar, quote inspiratif, dan estetika yang serba pastel. Tapi, di balik layar kaca dan filter digital itu, ada hal yang tak terlihat: kecemasan yang membuncah tiap malam, tangis diam-diam di pojok kamar, dan pertanyaan yang tak kunjung terjawab—“Apa yang salah denganku?”
Kisah Dinda bukan fiksi belaka. Di tahun 2025 ini, fenomena seperti itu telah menjadi keseharian yang diam-diam dialami jutaan remaja Indonesia.

AI/Indodailypost
Remaja Indonesia 2025: Krisis Diam yang Meningkat
Data terbaru menunjukkan bahwa sekitar 15,5 juta remaja Indonesia—atau sekitar 34,9% populasi usia remaja—mengalami bentuk gangguan mental tertentu. Mulai dari kecemasan berlebih, depresi, ADHD, gangguan perilaku, hingga PTSD ringan.
Dan ini bukan hanya angka di atas kertas. Di balik statistik itu ada wajah-wajah yang dikenal—anak teman, keponakan sendiri, atau bahkan siswa yang duduk di barisan belakang kelas.
Gangguan mental remaja Indonesia kini bukan lagi isu kecil. Ini adalah krisis sunyi yang memerlukan sorotan serius, karena masalah psikologis remaja tidak akan sembuh hanya dengan kalimat “kamu harus lebih bersyukur.”
Pemicu yang Tak Terlihat, Tapi Terasa Berat
Dinda, seperti banyak remaja lain, hidup di antara tekanan akademik, standar kecantikan digital, dan ekspektasi keluarga yang tak realistis.
Target nilai sempurna. Harus bisa ikut olimpiade. Jangan gemuk. Harus bisa tampil menarik di media sosial. Semuanya datang bersamaan, menumpuk seperti tumpukan tugas di semester akhir.
Dan ketika tempat curhat tak tersedia, tekanan itu berubah jadi beban batin yang menghancurkan pelan-pelan. Dinda tak punya ruang aman. Tidak di sekolah. Tidak di rumah.
Cyberbullying? Masih jadi momok. Komentar jahat di story atau direct message seperti racun yang terus diserap tanpa henti.
Standar kecantikan? Algoritma media sosial membuatnya makin tak realistis. Filter jadi normal. Diet ekstrem dianggap tren.
Ketika Dampak Menjadi Nyata
Apa yang terjadi kalau semua itu dibiarkan?
Beberapa remaja kehilangan minat pada hobi yang dulu disukai. Musik jadi terasa membosankan. Gambar tak lagi menghibur. Nongkrong dengan teman justru bikin makin lelah.
Ada juga yang mulai menarik diri secara sosial. Mereka hadir di kelas tapi tak terhubung. Duduk di meja makan tapi tak benar-benar ada.

AI/Indodailypost
Gangguan tidur? Sangat umum. Banyak yang tidur dengan mata terbuka, pikiran lari ke mana-mana.
Prestasi belajar menurun? Bukan karena malas, tapi karena fokus sudah dikalahkan oleh kecemasan.
Bahkan, ada yang mulai memikirkan untuk menyakiti diri sendiri, karena merasa itu satu-satunya cara untuk “merasa sesuatu.”
Kenapa Bantuan Sulit Ditemukan?
Meski masalahnya besar, yang mencari bantuan profesional hanya 2,6% dari total remaja terdampak.
Alasannya?
👉Takut dianggap lemah.
👉 Takut divonis “gila”.
👉 Takut membuat orang tua kecewa.
👉 Tak tahu harus mulai dari mana.
Stigma gangguan mental masih sangat kuat. Masih ada guru yang bilang, “Jangan lebay.” Masih ada orang tua yang berkata, “Itu hanya kurang ibadah.” Padahal, kesehatan mental remaja butuh pemahaman, bukan penghakiman.
Harapan: Cahaya yang Masih Menyala
Namun tidak semuanya gelap.
Dinda, suatu malam, membaca postingan dari seorang publik figur yang terbuka soal perjuangannya melawan depresi. Ia membaca komentar dari ribuan remaja lain yang merasakan hal serupa.
Saat itu, Dinda merasa: aku tidak sendirian.
Dan untuk pertama kalinya, ia mengirim pesan pada guru BK di sekolahnya.
Inilah pentingnya representasi dan ruang aman digital. Platform seperti Riliv dan Sehat Jiwa kini mulai jadi tempat curhat alternatif bagi remaja yang takut bertemu langsung.
Kampanye kesehatan mental di sekolah, walaupun belum merata, mulai bermunculan. Ada program pelatihan guru, sesi diskusi terbuka, dan ruang konseling.
Peran Orang Dewasa: Kuncinya Ada di Kita
Perubahan besar sering kali dimulai dari hal kecil. Seorang guru yang bersedia mendengarkan tanpa menghakimi. Seorang ibu yang bertanya, “Kamu lagi cemas ya?” tanpa nada menyalahkan. Seorang teman sebaya yang berkata, “Kita cari bantuan bareng, yuk.”
Remaja tidak butuh solusi sempurna. Mereka butuh ruang aman. Butuh orang yang mau mendengarkan, bukan menyela. Butuh validasi, bukan ceramah.
Dan ya, kadang cukup dengan berkata, “Kamu gak sendiri. Dan itu bukan salahmu.”
Mendampingi Remaja dengan Empati
Berdasarkan pengalaman para konselor dan guru:
1. Dengarkan Tanpa Menyela
Sering kali, yang dibutuhkan remaja hanya telinga yang terbuka. Bukan solusi langsung.
2. Hindari Menyederhanakan Masalah
Jangan katakan, “Cuma begitu aja kok.” Apa yang remeh bagi orang dewasa, bisa jadi badai bagi remaja.
3. Perhatikan Tanda-Tanda
Perubahan perilaku, kehilangan minat, atau sering murung bisa jadi sinyal awal gangguan mental.
4. Ajukan Pertanyaan yang Empatik
Alih-alih bertanya, “Kenapa kamu begini?”, lebih baik tanyakan, “Apa yang bisa membuatmu merasa lebih baik hari ini?”
5. Gunakan Teknologi untuk Terhubung
Jika remaja sulit bicara langsung, manfaatkan pesan teks atau aplikasi untuk membuka percakapan.

AI/Indodailypost
Catatan Penting dari Tahun 2025
Data kesehatan mental 2025 memberi peringatan:
Gangguan mental pada remaja Indonesia bukan isu masa depan. Ini sedang terjadi sekarang.
Pengaruh media sosial bukan sekadar tren, tapi faktor nyata.
Perlu edukasi digital literacy sejak dini.
Peran sekolah dan keluarga tak tergantikan.
Konseling remaja Indonesia harus jadi program wajib, bukan tambahan.
Setiap remaja berhak didengar.
Termasuk Dinda. Termasuk mereka yang tak sempat bersuara.
Dinda Bisa Siapa Saja
Di balik senyum itu, bisa jadi ada luka.
Dan luka tak akan sembuh kalau terus disembunyikan.
Kesehatan mental bukan tentang lemah atau kuat. Tapi tentang keberanian mengakui perasaan, mencari pertolongan, dan berjalan perlahan menuju sembuh.
Karena setiap remaja berhak merasa aman, didengar, dan dicintai.
Sumber data:
I‑NAMHS (Indonesia National Adolescent Mental Health Survey)
Indonesian Being Youth Mental Health Landscape (Jakarta, Mei 2024)

