Daftar isi
Saat Bulan Datang Mengetuk
Saat bulan datang, tubuh berbisik: sudah waktunya pulang ke dalam dirimu.
Bagi sebagian perempuan, datang bulan adalah momen yang melelahkan—kram perut, perubahan emosi, badan loyo, dan mood naik-turun seperti roller coaster. Tapi… bagaimana kalau kita berhenti melihat datang bulan sebagai “gangguan”? Bagaimana jika ia adalah surat cinta dari tubuh—pengingat lembut bahwa kita perlu melambat, mendengarkan, dan merawat diri?

AI/Indodailypost
Sebagai perempuan mungkin menganggap haid sebagai musuh yang ingin menyelesaikan urusan haid secepatnya, sekadar mengganti pembalut dan menahan nyeri dengan penghilang rasa sakit. Tapi yang perlu disadari: tubuh tak ingin dilawan, ia hanya ingin dipeluk. Menstruasi bukan kutukan—ia adalah ritme tubuh, wujud harmoni dengan semesta.
Menstruasi dalam Lensa Budaya dan Tradisi Lokal
Sejak zaman nenek moyang, darah menstruasi punya tempat tersendiri di kebudayaan Nusantara. Sayangnya, seringkali tempat itu adalah ruang sunyi dan tabu.
Di Jawa, misalnya, perempuan yang sedang datang bulan tidak boleh memasak karena diyakini masakannya akan “tidak enak” atau “tidak berenergi baik.” Di Bali, tradisi adat melarang perempuan haid masuk ke pura atau tempat suci. Bahkan di beberapa komunitas di Papua, perempuan yang sedang menstruasi masih dipingit di pondok khusus—sejenis “rumah menstruasi”—agar tidak bercampur dengan anggota keluarga lainnya.
Apakah semua itu buruk? Tidak sepenuhnya.
Beberapa tradisi justru mengandung nilai istirahat dan pemulihan, seperti ruang aman bagi perempuan. Dulu saya kira itu bentuk diskriminasi, tapi setelah mendalami lebih jauh, ternyata dalam banyak budaya, ada niat untuk memberi ruang bagi perempuan untuk berhenti sejenak—bahkan kalau itu dibungkus dengan tabu.
Makna menstruasi bagi perempuan Nusantara sangat beragam. Dari yang dianggap sakral, hingga yang dianggap memalukan. Kini saatnya kita meninjau ulang: bukan untuk menolak budaya, tapi untuk memahami dan menyesuaikan dengan kebijaksanaan baru.
Ritual Kecil Merawat Tubuh dan Jiwa
A. Perawatan Tubuh
Perawatan tubuh saat haid seharusnya tak cuma soal painkiller dan bantal hangat. Tubuh perempuan butuh sentuhan penuh cinta.
Mulailah dari yang sederhana: minuman hangat tradisional. Di rumah saya, Ibu selalu membuat air jahe setiap saya haid. Rasa pedasnya yang hangat mengalir seperti pelukan. Kalau kamu suka variasi, coba kunyit asam. Ini bukan sekadar jamu, tapi ritual kecil yang menghubungkan tubuh ke akar budaya.

Selain itu, kompres hangat di bagian perut bawah bisa membantu mengendurkan otot-otot rahim yang tegang. Beberapa teman saya bahkan menambahkan minyak esensial seperti lavender ke air mandi hangat mereka untuk merilekskan tubuh dan pikiran.
Dan jangan remehkan gerakan ringan. Yoga khusus saat menstruasi atau sekadar stretching bisa membantu peredaran darah, mengurangi kram, dan menstabilkan hormon. Jangan dipaksa keras—cukup gerakan lembut. Dengarkan tubuhmu.
B. Perawatan Emosi
Ini bagian yang sering kita abaikan: perawatan emosi.
Pernah nggak merasa baper luar biasa saat haid, lalu bingung sendiri? Itu bukan kamu yang “berlebihan”, itu hormon yang sedang berdansa. Dan mereka minta ditemani, bukan diabaikan.
Saya biasanya menulis jurnal kecil setiap haid. Isinya? Kadang cuma satu kalimat: “hari ini aku lelah tapi ingin dimengerti.” Tapi menuliskannya saja sudah terasa seperti terapi.
Coba kurangi paparan media sosial saat haid. Algoritma tidak tahu kamu sedang sensitif—ia akan tetap menampilkan konten yang bisa memicu insecure. Lebih baik dengarkan musik lembut, baca buku, atau duduk diam di teras sambil melihat langit.
Kita butuh ritual sunyi. Ruang sendiri yang tidak perlu penjelasan.
C. Perawatan Spiritual
Dan inilah yang paling dalam: merawat ruh.
Menstruasi sering dilabeli sebagai masa “tidak suci.” Tapi siapa bilang suci hanya soal fisik? Justru saat darah mengalir, kita sedang melepaskan. Dalam diam darah mengalir, dalam diam pula tubuh sedang menyembuhkan dirinya.
Meditasi ringan, dzikir, atau hanya menutup mata sambil menarik napas dalam dan berkata, “Aku cukup,” itu semua bentuk perawatan spiritual.
Lihat darah bukan sebagai kotoran, tapi simbol regenerasi. Tubuhmu sedang memperbarui dirinya. Itu bukan hal kecil. Itu sakral.
Merayakan Siklus Sebagai Bagian dari Kebijaksanaan Alam
Tahukah kamu bahwa ritme menstruasi sering sinkron dengan siklus alam? Banyak perempuan yang haidnya datang saat bulan baru atau purnama. Laut pasang surut sesuai fase bulan, begitu juga tubuh kita.
Saat kamu merasa tubuhmu melemah saat haid, ingat: itu tanda ia sedang bekerja keras menyapa keseimbangan.

AI/Indodailypost
Kita perempuan, diciptakan bukan hanya untuk kuat, tapi juga untuk tahu kapan berhenti dan merawat. Tubuh perempuan menyimpan kalender rahasia—yang tidak hanya menunjukkan kapan subur, tapi juga kapan rapuh, kapan butuh pelukan.
Merayakan menstruasi bukan berarti pesta besar. Cukup menyadari: “Ini waktuku untuk mendengarkan diriku sendiri.”
Menstruasi Bukan Kutukan, Tapi Kode Tubuh untuk “Pulang”
Dari semua pengalaman dan percakapan dengan sesama perempuan, ada satu pelajaran penting yang perlu dipahami: menstruasi bukan hanya urusan medis, tapi urusan manusiawi.
Saat kita berhenti menganggap haid sebagai beban, ia akan menjadi sahabat yang lembut. Ia hadir tiap bulan, bukan untuk mengganggu, tapi untuk mengingatkan kita: “Apa kamu sudah cukup baik pada dirimu sendiri?”
Pendidikan haid di sekolah seringkali cuma soal pembalut dan siklus. Padahal seharusnya, kita juga diajari tentang empati tubuh. Bagaimana mengenali tanda tubuh lelah. Bagaimana berbicara dengan diri sendiri tanpa menyalahkan. Bagaimana membuat ritual kecil cinta diri.
Merawat tubuh saat haid adalah bentuk kecil dari revolusi cinta diri. Kita tidak perlu menunggu dunia berubah untuk mulai memuliakan tubuh kita sendiri.

