Warisan Budaya Takbenda: Seni Tradisional Sandur di Jawa Timur

SHARE THIS POST

Sejarah dan Asal Usul Seni Tradisional Sandur

Seni tradisional sandur merupakan salah satu warisan budaya takbenda Indonesia. Sandur adalah seni pertunjukan khas yang berasal dari Jawa Timur, terutama di daerah Tuban dan Bojonegoro. Pertunjukan ini awalnya berkembang sebagai hiburan bagi para petani setelah musim panen. Dalam sandur, terdapat elemen cerita, tarian, musik, serta tokoh-tokoh yang memiliki peran penting. Meskipun pernah mengalami tantangan, seni ini terus bertahan hingga sekarang.

Pemerintah Orde Baru sempat melarang seni sandur karena menganggapnya terkait dengan Partai Komunis Indonesia (PKI). Hal ini sempat menghentikan pertunjukan sandur di berbagai daerah. Namun, dengan berjalannya waktu, masyarakat kembali memperjuangkan pelestarian sandur sebagai bagian penting dari budaya Jawa Timur.

Tarian Khas dalam Pertunjukan Sandur

Tari-tarian dalam sandur menjadi bagian integral dari setiap pementasan. Para penari sering menampilkan beberapa tarian, seperti tari bapang, tari klana, tari sapen, tari punakawan, tari panji, tari jaranan, dan tari gunungsari. Setiap tarian memiliki makna dan filosofi yang mendalam, menggambarkan karakter dan peristiwa dalam cerita sandur.

Tari Bapang, misalnya, sering menggambarkan seorang tokoh berani dan tangguh. Sementara Tari Punakawan biasanya membawa unsur humor dalam pementasan, sehingga pertunjukan sandur menjadi lebih dinamis dan menghibur.

Tokoh Utama dalam Pertunjukan Sandur

Tokoh-tokoh dalam seni sandur memainkan peran penting yang membentuk alur cerita yang disajikan. Pementasan sandur biasanya menampilkan empat tokoh utama, yaitu Balong, Petak, Tansil, dan Cawik. Tokoh-tokoh ini memainkan peran sebagai penggerak cerita dan memberikan nuansa tersendiri bagi penonton. Contohnya, para pemain sering menggambarkan Balong sebagai sosok yang bijak, sedangkan Cawik tampil lebih jenaka dan penuh humor.

Keempat tokoh ini mencerminkan kehidupan sehari-hari masyarakat pedesaan, menjadikan sandur sebagai refleksi budaya lokal yang kental.

Pelestarian Warisan Budaya Sandur

Pelestarian warisan budaya takbenda seperti sandur memerlukan perhatian khusus. Seiring perkembangan zaman, seni tradisional seperti sandur menghadapi tantangan dari modernisasi. Namun, beberapa upaya telah dilakukan untuk melestarikan seni ini. Komunitas lokal, seniman, dan pemerintah daerah bekerja sama dalam menyelenggarakan festival dan pementasan sandur secara berkala. Hal ini dilakukan untuk menarik minat generasi muda, sehingga mereka terus mengenal dan mencintai kesenian tradisional mereka.

Perlu adanya dokumentasi seni sandur melalui media digital agar masyarakat luas dapat mengaksesnya dengan mudah, sehingga kesenian ini tetap hidup dan berkembang.

Permainan Tradisional Sebagai Bagian dari Kesenian

Selain seni pertunjukan, warisan budaya takbenda juga meliputi permainan tradisional. Permainan tradisional di berbagai daerah Indonesia sering kali berkaitan erat dengan kesenian lokal. Di Jawa Timur, misalnya, permainan tradisional seperti egrang dan balapan karung menjadi bagian dari perayaan budaya, termasuk dalam acara-acara seni pertunjukan seperti sandur.

Dengan adanya permainan tradisional ini, pementasan sandur menjadi lebih meriah dan menghibur bagi semua kalangan.

Seni pertunjukan dan permainan tradisional berkaitan erat yang menjadi bagian dari kekayaan dan ragam warisan budaya takbenda Indonesia. Oleh karena itu, kita perlu melestarikan seni pertunjukan dan permainan tradisional.

Seni tradisional sandur adalah kekayaan budaya yang harus kita lestarikan. Meski sempat terjadi pelarangan namun berbagai pihak terus berusaha mempertahankan kelestarian seni pertunjukkan Sandur hingga saat ini. Tarian khas, tokoh-tokoh yang unik, serta permainan tradisional yang menjadi bagian dari pertunjukan membuat sandur tetap relevan di tengah perkembangan zaman. Generasi muda diharapkan dapat mengenal kembali seni tradisional ini. Dengan demikian, seni tradisional sandur dapat terus berkembang sebagai bagian dari identitas budaya Indonesia.