Daftar isi
Pernah dengar kisah tentang seseorang yang rela berjalan belasan kilometer setiap hari hanya untuk menanam pohon di bukit gersang? Atau seorang nenek di desa terpencil yang mendaur ulang sampah tanpa berharap sorotan kamera?

Gambar: Kementrian Lingkungan Hidup
Mereka bukan selebriti, bukan pula pejabat tinggi. Tapi tanpa mereka, mungkin hutan kita sudah lebih banyak hilang, sungai makin kotor, dan udara lebih sesak. Mereka adalah pahlawan tak dikenal di balik hutan. Mereka yang diam-diam menanam, agar generasi mendatang bisa menuai.
Dan di Indonesia, ada satu penghargaan yang mewakili rasa terima kasih kita pada para penjaga bumi dari jalur sunyi ini. Namanya: Kalpataru.
Apa Itu Kalpataru dan Mengapa Penting?
Bukan sekadar trofi, ia adalah lambang penghargaan tertinggi dari negara kepada individu atau kelompok yang berdedikasi menjaga lingkungan hidup. Sejak tahun 1980, penghargaan Kalpataru telah menjadi bentuk apresiasi bagi mereka yang melestarikan alam, tak peduli seberapa terpencil tempat mereka bekerja.
Nama “Kalpataru” sendiri diambil dari mitologi Hindu—pohon kehidupan yang memberi segalanya bagi makhluk hidup. Filosofi ini melekat pada semangat para penerimanya: memberi tanpa pamrih, merawat tanpa menuntut imbalan.
Namun ironisnya, banyak dari kita yang justru tak mengenal mereka. Padahal, mereka adalah wajah dari ekologi Indonesia yang bertahan. Mereka mewakili aktivisme lokal yang tumbuh dari akar rumput.
Maka di sinilah kita—menyimak sejenak kisah-kisah mereka. Bukan untuk sekadar kagum, tapi untuk belajar. Dan mungkin, untuk ikut bergerak.
Jejak Penghargaan Kalpataru: Dari Hutan ke Istana Negara

Penghargaan ini pertama kali diberikan pada tahun 1980 oleh Kementerian Lingkungan Hidup (saat itu masih bernama Kementerian Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup). Sejak itu, setiap tahun, tokoh-tokoh luar biasa dari seluruh pelosok negeri dikumpulkan di Jakarta untuk menerima penghargaan ini.
Kalpataru terbagi dalam empat kategori:
- Perintis Lingkungan: Mereka yang memulai dari nol, seringkali sendirian, dalam aksi pelestarian.
- Pengabdi Lingkungan: Tokoh-tokoh yang mengabdikan profesi atau hidupnya demi konservasi alam.
- Penyelamat Lingkungan: Pahlawan yang berhasil mencegah atau mengatasi kerusakan lingkungan besar.
- Pembina Lingkungan: Mereka yang mendorong partisipasi kolektif dan membentuk gerakan hijau.
Kalpataru adalah bentuk nyata penghargaan terhadap pengabdian tanpa sorotan. Ia bukan hanya pengakuan, tapi juga panggilan untuk terus berbuat.
Dari Lahan Tandus ke Harapan Baru
Perintis Lingkungan: Sadiman, Sang Penanam Hutan
Siapa sangka seorang kakek dari Wonogiri bisa mengubah wajah sebuah bukit tandus menjadi rimbun kembali?
Sadiman, mantan tukang jualan keliling, memutuskan untuk menanam pohon sejak 1996. Awalnya ia ditertawakan karena menanam beringin—pohon yang dianggap ‘angker’. Tapi ia tahu: akar beringin bisa menyimpan air.
Dua dekade kemudian, lahan yang dulu gersang kini hijau. Air kembali mengalir, sawah bisa panen lagi. “Mereka menanam, kita menuai”—kalimat ini benar-benar hidup dalam kisah Pak Sadiman. Ia adalah contoh nyata dari perintis lingkungan yang tak gentar meski sendirian.
Pengabdi Lingkungan: Ibu Lasmi, Guru Adat dari Kalimantan
Di pedalaman Kalimantan Tengah, Ibu Lasmi, seorang guru dari komunitas Dayak Ngaju, tak hanya mengajar baca tulis. Ia juga mewariskan kearifan lokal yang menyelamatkan ekosistem.
Ibu Lasmi mengajarkan anak-anak pentingnya hutan bagi air, makanan, dan identitas budaya. Ia melestarikan ritual menanam pohon usai panen, dan mempopulerkan pengetahuan tanaman obat tradisional.
Bagi banyak anak di desanya, hutan bukan lagi sekadar ‘tempat kayu’, tapi rumah. Warisan. Identitas.

Penyelamat Lingkungan: Rizal, Penjaga Mangrove Pesisir Aceh
Rizal, pemuda dari pesisir Aceh Timur, pernah menyaksikan desanya diterjang abrasi. Puluhan rumah rusak, dan garis pantai makin dekat ke pemukiman.
Alih-alih pindah, Rizal menanam mangrove. Ia mengajak warga, membuat nursery sendiri, dan mendidik anak muda lewat kegiatan eco-tourism. Ia pernah ditawari oleh investor tambak udang, tapi menolak.
“Kalau tambak itu dibuat, mangrove habis. Kalau mangrove habis, rumah kita bisa hilang,” katanya. Ia menyelamatkan desanya secara harfiah. Dari banjir, dari erosi, dari kehilangan.
Pembina Lingkungan: Komunitas Hijau Kampung Pelangi
Di Yogyakarta, Kampung Pelangi dulunya kumuh dan penuh sampah. Tapi berkat kolaborasi warga dan tokoh lokal bernama Pak Widodo, kini kampung itu dikenal sebagai contoh gerakan hijau urban.
Dengan pendekatan partisipatif, mereka mendirikan bank sampah, kebun komunitas, dan program zero waste. Bahkan tur edukatif kini menjadi sumber pendapatan warga.
Pak Widodo bukan tokoh besar. Tapi ia pembina—ia menyalakan api gerakan. Dan kampungnya sekarang jadi inspirasi nasional.
Tantangan dan Realita Lapangan
Lawan Tak Terlihat: Industri dan Kepentingan
Tak sedikit dari para pahlawan lingkungan ini yang harus berhadapan dengan kekuatan besar: industri sawit, tambang, hingga mafia kayu.
Banyak yang mendapat intimidasi, bahkan kriminalisasi. Bayangkan, orang yang menyelamatkan hutan malah dilaporkan karena “menghalangi investasi”.
Ironi, ya?
Tapi begitulah ketidakadilan ekologi bekerja. Mereka yang hidup paling dekat dengan alam, justru sering tak punya kuasa untuk melindunginya.
Minimnya Dukungan dan Sorotan
Masih banyak penerima Kalpataru yang hidup sederhana. Sebagian bahkan tak tahu bahwa mereka pernah “masuk berita nasional”. Dukungan dari pemerintah kadang datang sebagai piagam, bukan program lanjutan.
Padahal yang mereka butuhkan adalah: akses bibit, pelatihan, jaringan komunitas, dan perlindungan hukum.
Apa yang Bisa Kita Pelajari dari Mereka?

Setiap kisah di atas menunjukkan satu hal: perubahan besar bisa datang dari tindakan kecil yang konsisten.
Dalam konteks perubahan iklim, aksi lokal seperti reboisasi, pengelolaan sampah, atau edukasi anak-anak tentang ekosistem justru paling kuat dampaknya dalam jangka panjang.
Para penerima Kalpataru menunjukkan bahwa pelestarian hutan, konservasi alam, dan gaya hidup berkelanjutan bukan cuma wacana. Mereka menjalaninya setiap hari.
Dan yang paling penting—mereka melakukannya bukan karena ingin viral. Tapi karena mereka cinta tanahnya. Alamnya. Generasinya.
Menyambungkan Kembali Generasi Muda ke Akar Hijau
Banyak anak muda hari ini tumbuh di kota, jauh dari sawah, hutan, dan laut. Hubungan kita dengan alam makin lemah. Tapi cerita tentang para penjaga bumi ini bisa menjadi jembatan.
Bagaimana kalau kita memasukkan kisah Kalpataru ke kurikulum sekolah?
Atau bikin serial YouTube tentang pahlawan lingkungan lokal?
Atau bahkan menginisiasi Kalpataru versi komunitas, sebagai bentuk aktivisme lokal?
Mereka sudah menunjukkan jalan. Tinggal kita yang melanjutkan.
Dari Membaca ke Bertindak
Kalau kamu baca artikel ini sampai habis, artinya ada sesuatu dalam dirimu yang peduli. Dan itu bagus. Tapi jangan berhenti di sini.
Lihat sekitar. Adakah tokoh lokal yang menginspirasi? Wawancarai mereka. Tulis kisah mereka. Angkat suara mereka di media sosial.
Dan kalau belum ketemu, jadilah kamu tokohnya.

