Tidur di Lantai: Antara Mitos, Budaya, dan Ilmu Kesehatan

SHARE THIS POST

Sebuah Tradisi yang Melekat

“Eh, jangan tidur di lantai, nanti masuk angin!”

Pernah dengar kalimat itu di rumah, terutama dari orang tua atau nenek kita? Kalau iya, berarti kamu nggak sendirian. Dalam banyak rumah tangga Indonesia, tidur di lantai sering dikaitkan dengan penyakit — terutama mitos masuk angin. Bahkan dalam beberapa lingkungan, praktik ini jadi semacam “larangan tidak tertulis”.

Copilot 20250728 122159
Ilustrasi.
AI/Indodailypost

Namun, menariknya, sebagian orang justru merasa lebih sehat setelah tidur di lantai. Lebih segar, badan nggak pegal, bahkan katanya bisa “menyerap energi bumi”. Hmm, antara fakta dan mitos, ya?

Dalam artikel ini, kita akan kulik secara dalam — dari praktik budaya Jawa seperti malam 1 Suro, hingga pandangan medis terkini, dan kita akan lihat apa yang dikatakan budaya dunia tentang tidur tanpa ranjang.


Asal-usul Mitos dan Praktik Budaya

Mitos Masuk Angin dan Paru-Paru Basah

Di Indonesia, “masuk angin” bukan sekadar keluhan kesehatan — tapi bagian dari kepercayaan massal. Padahal, masuk angin bukan istilah medis, dan tidak ditemukan dalam literatur kedokteran modern.

Konsep ini lebih dekat ke “flu ringan”, “gastritis”, atau gangguan sirkulasi ringan. Tapi mitos yang menyebar adalah bahwa tidur di lantai menyebabkan angin menyerap ke tubuh lewat pori-pori dan menyebabkan penyakit seperti paru-paru basah atau bahkan angin duduk.

Baca Juga:  Cantengan? Rahasia Ampuh MengatasinyaTerungkap!

Padahal ya… kenyataannya lebih kompleks dari itu. Dan kita akan bahas di bagian medis nanti.

Praktik Spiritual dalam Tradisi Jawa

Di kalangan masyarakat Jawa, tidur di lantai punya makna mendalam. Misalnya saat malam 1 Suro, banyak orang melakukan ritual tirakat, puasa, dan tidur di lantai sebagai simbol ketundukan pada Sang Pencipta.

Bukan cuma sekadar melepas kasur, tapi ini menyiratkan kerendahan hati, koneksi langsung ke bumi, dan kesadaran spiritual. Dalam istilah lain:
“tidur di lantai sebagai simbol kerendahan hati.”

Konon, bumi itu netral. Dalam tradisi spiritual Jawa, tidur di lantai adalah cara agar energi negatif bisa “ditarik” keluar tubuh dan dinetralisir oleh tanah. Sebuah bentuk grounding yang sangat mirip dengan konsep penyelarasan batin dalam spiritualitas Timur.


Tidur di Lantai dalam Budaya Dunia

Jepang dan Korea: Minimalisme yang Sehat

Di Jepang dan Korea, tidur di lantai itu bukan “darurat” — tapi gaya hidup. Mereka menggunakan futon, alas tipis dari kapas, diletakkan di atas tatami (anyaman jerami). Praktik ini dianggap menyehatkan postur dan merendahkan risiko scoliosis atau punggung bengkok.

Ada juga nilai kesederhanaan dan keseimbangan energi dalam rumah. Dalam feng shui, lantai yang bersih dan tidur rendah membantu chi (energi vital) mengalir lebih baik. Ini jadi alasan mengapa banyak rumah di Asia Timur tetap mempertahankan tradisi ini.

India dan Suku Amazon: Koneksi dengan Alam

Di India, banyak yogi dan biksu yang tidur di lantai sebagai bentuk latihan spiritual. Tidur tanpa kasur dipercaya memperkuat tubuh dan mental, serta melatih disiplin.

Sedangkan pada suku-suku di Amazon, tidur di lantai (atau gantung di hammock) dianggap cara alami untuk menyelaraskan tubuh dengan siklus bumi dan menghindari hewan liar di malam hari.

Baca Juga:  Rahasia Mengejutkan di Balik Manfaat Air Dingin untuk Kesehatan Tubuh Anda

Intinya, di banyak tempat, tidur di lantai dalam perspektif global bukan tanda kemiskinan — tapi bentuk pilihan hidup, spiritualitas, dan kesehatan.


Pandangan Medis tentang Tidur di Lantai

w
Ilustrasi.
AI/Indodailypost
Klarifikasi: Masuk Angin Bukan Penyakit Medis

Seperti disebut sebelumnya, masuk angin bukan istilah medis. Kalau kamu tidur di lantai lalu bersin-bersin atau meriang, itu mungkin karena lingkungan yang kotor, lembap, atau paparan debu, bukan semata-mata lantainya.

Kalau udaranya terlalu dingin, dan kamu tidur tanpa alas atau selimut, ya… wajar kalau kamu flu.

Manfaat Tidur di Lantai

Berikut beberapa manfaat tidur di lantai yang dicatat dalam beberapa jurnal kesehatan:

  • Meningkatkan postur tulang belakang: karena tidak ada permukaan yang terlalu empuk, tubuh lebih mudah menemukan posisi netral.
  • Membantu mengurangi nyeri punggung: bagi beberapa orang dengan lordosis ringan, tidur di lantai bisa memperbaiki lengkungan tulang belakang.
  • Sirkulasi darah lebih lancar: posisi netral dan terbuka saat tidur membantu aliran darah lebih baik.

Tapi tentu saja, ini tidak cocok untuk semua orang.

Risiko yang Perlu Diwaspadai

Ada juga efek negatif dari tidur di lantai, terutama jika tidak dilakukan dengan benar:

  • Paparan dingin: lantai menyerap suhu, dan jika kamu tinggal di area yang lembap, ini bisa membuat sendi kaku atau memperparah arthritis.
  • Debu dan tungau: lantai adalah tempat favorit debu menumpuk. Tanpa alas tidur atau karpet bersih, bisa memicu alergi.
  • Masalah sirkulasi bagi lansia: tubuh yang terlalu lama kontak langsung dengan lantai bisa menyebabkan masalah sirkulasi bagi orang tua.

Jadi, antara mitos dan manfaat nyata tidur tanpa ranjang, kuncinya adalah cara dan konteks.


Tips Tidur Sehat dan Praktis Meski di Lantai

Enko ji Kyoto Inside
Contoh Tatami, alas untuk tidur.
Gambar: Wikipedia

Kalau kamu tetap ingin coba tidur di lantai, berikut beberapa tips tidur sehat yang bisa kamu terapkan:

Baca Juga:  Suro: Rahasia Sunyi Menggetarkan Jiwa—Makna di Balik Awal Tahun Jawa

1. Gunakan Alas Tipis tapi Empuk

Pakai yoga mat, kasur gulung, atau futon. Jangan langsung kontak dengan lantai. Ini menjaga suhu tubuh dan kenyamanan punggung.

2. Jaga Kebersihan Lantai

Pastikan lantai bersih, bebas debu, bulu hewan, dan lembap. Ini penting banget untuk menghindari alergi dan iritasi kulit.

3. Pakai Selimut

Jangan gengsi pakai selimut. Bukan cuma untuk hangat, tapi juga pelindung dari perubahan suhu malam hari.

4. Hindari Tidur di Dekat Celah Pintu atau Jendela

Area ini cenderung lebih dingin dan berisiko menyebabkan paparan udara langsung ke wajah atau leher.

5. Miliki Rutinitas Sebelum Tidur

Tidur sehat dimulai dari kebiasaan sederhana. Matikan layar 1 jam sebelum tidur, minum air hangat, dan dengarkan musik tenang.

6. Lakukan Peregangan Ringan

Stretching bisa membantu tubuh lebih rileks dan tidur lebih nyenyak, terutama kalau kamu tidak pakai kasur empuk.


Tradisi vs Ilmu, Mana yang Menang?

Seperti banyak hal dalam hidup, tidur di lantai bukan soal benar atau salah. Ini adalah soal konteks, pilihan, dan pemahaman.

Tradisi seperti ritual malam 1 Suro yang penuh makna spiritual, memiliki nilai budaya dan spiritual yang tak ternilai. Tapi kita juga perlu membuka ruang bagi sains untuk menjelaskan dan mengkaji ulang kebiasaan kita.

Antara tradisi dan ilmu kedokteran, seharusnya bukan pertarungan. Tapi kerja sama. Supaya kita bisa hidup sehat — sambil tetap menghargai warisan budaya kita.

Kalau kamu masih tidur di lantai sampai sekarang — dan merasa lebih baik, ya lanjutkan. Tapi kalau kamu punya keluhan punggung, sendi, atau alergi, coba evaluasi. Bisa jadi bukan lantainya, tapi cara atau lingkungannya yang perlu diubah.